Senin, 15 Juni 2020

PENALARAN

Pernahkan kalian melihat seseorang yang secara tak sengaja tertabrak orang lain yang tergesa-gesa berjalan sehingga membuatnya marah lalu berkata: Kalau jalan pakai mata!
Lho...jalan bukannya pakai kaki, ko pakai mata sih?



Iya juga sih, tetapi maksud kalimat kalau jalan pakai mata itu berarti teguran agar saat berjalan kita harus melihat lingkungan sekitar atau berhati-hati sehingga tidak sampai menabrak orang lain.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata penalaran berarti (1) cara menggunakan nalar; pemikiran atau cara berpikir logis; (2) hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman; (3) proses mental dalam mengembangkan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip.

Penalaran dibedakan atas penalaran deduktif dan penalaran induktif.
Penalaran Deduktif adalah proses menarik simpulan yang diawali dengan mengemukakan pernyatan umum (premis mayor) diikuti pernyataan khusus (premis minor) kemudian ditarik simpulan yang bersifat khusus.
Contoh:
1.    Pernyataan umum      : Semua siswa SMK Negeri 5 Jakarta wajib mengikuti praktik di
                                     bengkel.
Pernyataan khusus     : Aku siswa SMK Negeri 5 Jakarta.
Simpulan                     : Aku wajib mengikuti praktik di bengkel. (kesimpulan)

2.    Pernyataan umum      : Semua guru berusaha memberikan yang terbaik.
Pernyataan khusus     : Bu Ismaninggar adalah seorang guru.
Simpulan                     : Bu Ismaninggar berusaha memberikan yang terbaik.


Penalaran Induktif adalah proses menarik kesimpulan yang diawali dengan mengemukakan beberapa pernyataan khusus kemudian ditarik kesimpulan secara umum.
Penalaran induktif dibedakan atas 3 macam, yaitu generalisasi, analogi, dan  kausalitas (sebab-akibat).

Generalisasi
Penarikan kesimpulan dengan cara generalisasi diawali dengan pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus kemudian ditarik pernyataan yang bersifat general (umum).

Contoh 1
Pernyataan khusus:
  1. Aluminium akan memuai bila dipanaskan. 
  2. Besi akan memuai bila dipanaskan.
  3. Emas bila dipanaskan akan memuai.
  4. Kuningan bila dipanaskan juga akan memuai.
  5. Perak pun demikian bila dipanaskan akan memuai.
  6. Perunggu juga memuai bila dipanaskan.
  7. Timah juga akan memuai bila dipanaskan.
  8. Tembaga bila dipanaskan juga akan memuai.     
Simpulan: Semua jenis logam akan memuai bila dipanaskan.

Contoh 2
  1. Gilang Daniyal adalah siswa yang rajin.
  2. Ia selalu hadir tepat waktu dan menyelesaikan semua tugas yang diberikan guru.
  3. Bila ada guru yang belum hadir atau berhalangan, waktunya diisi dengan belajar mandiri di kelas atau di perpustakaan.
  4. Ia pun mudah memahami penjelasan guru sehingga setiap ulangan, nilai yang diperolehnya selalu tinggi dalam semua mata pelajaran.
  5. Gilang pun terampil di bidang komputer, menguasai bahasa Inggris, dan terampil bermain bola basket.
  6. Dalam hal beribadah dia juga taat. Sholat tidak pernah ditinggalkan. Kemampuan membaca Al Qurannya pun baik.
  7. Selain itu sikapnya santun, bicaranya pelan namun tegas.
  8. Jiwa sosialnya pun tinggi.

Simpulan: Bahasa Indonesia menyerap kosa kata dan istilah dari bahasa asing untuk  memperkaya perbendaharaan kosa kata.

Analogi
Analogi merupakan proses penarikan kesimpulan yang didasarkan atas perbandingan dua hal yang berbeda, tetapi karena mempunyai kesamaan segi, fungsi, atau ciri, kemudian keduanya dibandingkan (disamakan). Kesamaan keduanya inilah yang menjadi dasar penarikan simpulan.

Contoh 1
Orang tua mendidik kita di rumah dengan penuh kasih sayang. Mereka mengajari kita banyak hal. Tak jarang kita dimarahi ketika kita nakal dan tidak mematuhi nasihat mereka.
Di sekolah para guru juga mendidik kita dengan penuh kasih sayang. Guru mengajari kita berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan, bahkan juga memberikan teladan akhlak yang baik. Demi menanamkan kedisiplinan dan tanggung jawab, para guru pun acapkali memberi hukuman pada kita.
Simpulan : Jadi, dapat dikatakan bahwa para guru adalah orang tua kita di sekolah.

Berdasarkan contoh tersebut dapat disimpulkan struktur analogi adalah pembanding^hal yang dibandingkan^kesamaan kedua hal yang diperbandingkan.

Sebab-Akibat
Dalam pola penalaran ini sebab bisa menjadi gagasan utamanya sedangkan akibat menjadi gagasan penjelasnya. Namun, dapat juga terjadi sebaliknya. beberapa sebab dapat menjadi gagasan penjelas sedangkan akibat menjadi gagaan utamanya.

Contoh 1
Sebab:
  1. Gilang Daniyal adalah siswa yang rajin.
  2. Ia selalu hadir tepat waktu dan menyelesaikan semua tugas yang diberikan guru.
  3. Bila ada guru yang belum hadir atau berhalangan, waktunya diisi dengan belajar mandiri di kelas atau di perpustakaan.
  4. Ia pun mudah memahami penjelasan guru sehingga setiap ulangan, nilai yang diperolehnya selalu tinggi dalam semua mata pelajaran.
  5. Gilang pun terampil di bidang komputer, menguasai bahasa Inggris, dan terampil bermain bola basket.
  6. Dalam hal beribadah dia juga taat. Sholat tidak pernah ditinggalkan. Kemampuan membaca Al Qurannya pun baik.
  7. Selain itu sikapnya santun, bicaranya pelan namun tegas.
  8. Jiwa sosialnya pun tinggi.

Akibat: Ketika ujian sekolah tiba, ia mampu mengerjakannya dengan baik, dan memperoleh nilai tinggi sehingga dapat melanjutkan pendidikannya di UNJ sesuai dengan keinginannya.

Contoh 2
Akibat : Jumlah penderita Covid-19 di Indonesia terus meningkat.
Sebab:

  1. Sikap meremehkan imbauan pemerintah untuk mentaati protokol kesehatan.
  2. Masih banyak warga tidak menggunakan masker ketika keluar rumah.
  3. Enggan bila harus sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
  4. Di beberapa wilayah sering ditemui warga yang berkumpul dalam jumlah yang cukup besar.
  5. Ada juga yang nekat mengadakan acara yang membuat orang berkerumun.
  6. Ada warga yang tidak jujur melaporkan kondisi kesehatannya, terutama saat merasakan gejala terpapar Covid-19.
  7. Kurang menyadari resiko yang mungkin ditimbulkan.

0 komentar:

Posting Komentar