Selasa, 26 Mei 2020

AKU DAN PUISI


Puisi merupakan hasil karya sastra yang menggambarkan suasana atau perasaan batin penulisnya. Apa yang kita dengar, yang kita rasakan, yang kita lihat, atau yang kita alami dapat kita tuangkan dalam puisi. Pokoknya melalui puisi kita bebas mengekspresikan banyak hal melalui kata-kata. Tentu saja puisi yang dimaksudkan di sini adalah puisi modern yang tidak terikat aturan tertentu seperti pada puisi lama.

Kali ini aku ingin menggambarkan perjalananku melalui beberapa puisi yang kutulis sendiri.




KETIKA DAN KETIKA
Catatan Ismaninggar

KETIKA 1
Ketika 2019 diakhiri dengan rutinitas yang sama
oleh sebagian orang yang tetap menjaga imagenya
Di beberapa penjuru kita dengar suara petasan bersahut-sahutan
dengan suara terompet memekakkan telinga
Langit dipenuhi bentuk-bentuk beraneka warna
yang tidak bermakna
Sementara tidak sedikit penjaja terompet yang menangis, menjerit
karena hujan seperti ditumpahkan dari langit seolah tanpa henti
memupuskan mimpi mereka tuk raup keuntungan lebih
seperti tahun-tahun sebelumnya

Ketika 2020 diawali dengan meluapnya air di berbagai penjuru
membanjiri rumah-rumah di bantaran sungai
membanjiri rumah-rumah di gang-gang sempit
membanjiri rumah-rumah di perkampungan
membanjiri perumahan sederhana bahkan
membanjiri perumahan yang terbilang cukup mewah
bahkan tanpa permisi menyambangi istana kepresidenan
Keluhan, umpatan, makian bahkan sumpah serapah yang dilontarkan
berakhir dengan menyalahkan orang lain
tanpa mau introspeksi diri

Ketika masih disibukkan dengan berbagai tindakan pemulihan, perbaikan,
pembangunan tuk atasi itu
lagi-lagi kita diberi teguran yang bahkan lebih berat
bagi semua kalangan:
kaya-miskin, lelaki-perempuan, tua-muda,
pejabat negara, tokoh politik, pengusaha, pebisnis, sopir, warga biasa,
bahkan perawat dan dokter
tak bisa menghindar dari mikroorganisme patogen ini:
Corona virus  yang menyerang sistem pernapasan manusia

Ketika diawali dari 2, 7, 19, 27, 96, 117, 172, 227, 309, 452, 893, 1414...
Kapankah hitungan itu akan berakhir?
Ketika diawali dari sebuah kota, terus menimbulkan efek domino
Kini  tidak sedikit kota di Indonesia pun terdampak
Ketika pemerintah tetapkan kondisi tanggap darurat mulai dari
gunakan masker, jaga jarak, rajin cuci tangan sampai
tentukan aturan tetap kerja di rumah, belajar di rumah, di rumah saja
Ketika semua itu diabaikan
Ketika sebagian warga bersikap tidak peduli
Ketika yang terpapar terus bertambah
Ketika yang tidak tertolong terus bertambah
Ketika kematian menjemput
Ketika itu ... telah terlambat!
                                                                                               
                                         Pejuang, 30 Maret 2020




MATEMATIKA
'Tuk Mba Diah, Semarang, 2017

Ketika kudengar dia bicara aku tak mampu menghentikannya
Perempuan ayu berkaca mata dengan tahi lalat di hidungnya
Dengan lembut namun jelas berucap
Kita jangan cuma percaya bahwa dua ditambah dua sama dengan empat
Itu cuma matemematikanya manusia
Tapi kita harus percaya bahwa dua ditambah dua bisa jadi 10, 100, 1000, bahkan lebih
Jika matematika Allah yang berlaku
Ilmu tingkat tinggi yang saat itu belum bisa langsung kucerna



ALHAMDULILLAH
Cisarua, 2016 

Satu per satu mereka berjalan berbaris mengikuti jalan setapak yang kian meninggi dan berliku
Aku berdiri di bagian belakang
Didampingi beberapa anak muda yang terus menyemangatiku
Ayoooo...semangat, bunda pasti bisa
Jalan terus menanjak, sedikit basah, dan licin
Kadang kami harus membungkuk karena batang pohon yang melintang
atau harus menaiki batu besar di tengah jalan dan merosot tuk jejaki tanah kembali
Ketika jalan setapak menurun 
Perjalananku tambah berat
Maklum usiaku sudah di atas lima puluh
Aku harus ekstra hati-hati
Di sinilah aku bisa lebih mengenalmu anak muda
Dengan sabar kalian bergantian membantuku 
saat aku terlihat ragu melangkah menuruni tebing 'tuk bisa sampai di sungai
Kami lewati sungai berair dingin dan sejuk,  
memilih bagian yang lebih dangkal melewati batu-batu di sepanjang sungai
Perjalanan berlanjut
Jalan setapak kembali menanjak 
meskipun tidak seterjal dan sejauh awal perjalananan
Akhirnya rasa lelahku terbayar begitu kami sampai di tujuan.
Suara air jatuh dari ketinggian menimpa ceruk sungai 
menciptakan musik terindah saat itu
Alhamdulillah 'tuk karunia-Mu ya Allah 
memberiku kesempatan di usiaku ini
bisa mensyukuri dan menikmati keindahan dua curug sekaligus di tempat ini.
Allahuakbar...



GEDE KEPAYANG

Aaaahhhh... aku tahu kawan
Kau pasti mengira aku lagi kasmaran
Hahaha...
Aku memang mabuk
Mabuk berat
Isi perutku terasa diaduk-aduk
Rasa mual naik ke kepala
Dan
Di saat yang sama aku merasa sangat senang
Aku suka, aku jatuh cinta
Bagaimana tidak
Setelah tempuh perjalanan dengan perahu kayu bersama dua puluh penumpang lainnya
Di sepanjang perjalanan diombang-ambingkan ombak karena hembusan angin yang kuat
Cipratan air asin basahi badan
Masih ditambah rasa takut terbawa arus, takut tenggelam karena tak bisa berenang
Wajarlah membuatku mabuk
Walau tak sampai memuntahkan yang sudah kutelan
Rasa itu tergantikan saat kujejakkan kaki di atas pasir putih yang lembut...
Subhanallah....Allahuakbar
Indahnya pulau yang kudatangi
Pulau GEDE KEPAYANG




ILLUMINATI

Kuraih kamus saku dari meja itu
Secara acak kubuka sebuah halaman dan
Mataku terhenti pada satu kata ...ILLUMINATI
Refleks ingatanku kembali ke beberapa waktu lalu...

ILLUMINATI
Gambaran tentang kejahatan terselubung
Yang dilakukan oleh mereka yang menyebut dirinya ‘penguasa’
Penguasa yang menyembunyikan dirinya dibalik tindakan pemimpin yang mereka pilih
Pemimpin yang menjadi pion yang dapat mereka mainkan
Pemimpin yang dapat dijadikan kambing hitam
Dan tameng kelicikan mereka

Hari ini kudapat sebuah buku berjudul ILLUMINATI
Sebuah kebetulan yang menakjubkan
Setelah sehari sebelumnya aku berbincang tentang itu bersama temanku
Sebaris kalimat yang membuatku terhenyak:
Dunia dalam Genggaman Perkumpulan Setan

Lembar demi lembar kubaca semakin membuatku ternganga
Nalarku tak sanggup memahaminya
Emosiku tergugah
Rasa kuatirku pun mengalir
Rasa takutku melesat bak meteor
Mengapa?
Karena aku melihat
Karena aku mendengar
Karena aku merasa
Dunia kecil di sekitarku kini berada dalam genggaman sekumpulan setan


Pejuang, Sabtu 16 April 2016



MENARI

Suara gamelan terdengar merdu
Iringi langkah dan gerak tubuhku
Gemulai ikuti irama
Buatku tenggelam dalam kekhusukan
Irama musik terus meninggi dan meninggi
Selendang merah kukibaskan
Seketika gerakku berubah gagah
Penuh semangat dan naluri
Ikuti irama yang semakin cepat
Yang kunikmati bukan cuma kegesitan
Tapi kelincahan dan kepuasan berekspresi
Sampai suara gamelan memelan
Lalu terhenti



GADIS ITU PUTRIKU
Puisiku ‘tuk LIK

Tertatih-tatih langkahmu
kadang terhuyung
Tapi suara tawamu tetap bergema
Karena kau tahu tanganku siap menjagamu
Kini ...
Langkahmu mulai berirama dan kuat
Kemauanmu mulai terbaca
Dapat kutangkap sikap kerasmu
Kurasa egomu terpancar dalam gerakmu
Sekaligus memancarkan cinta kasihmu padaku
Akankah kusempat menemanimu tuk menjemput masa depanmu
16 tahun sudah kita lalui bersama
Kini kau sudah menjelma menjadi sosok yang dewasa
Banyak asa kupendam untukmu gadisku
Semoga DIA tetap menjagamu untukku       
Untukmu ...putriku

Pejuang 05 November 2015

ISTIMEWANYA APA

Hari ini bukanlah hari yang sama saat kau hadir
Hari ini adalah hari yang sama dengan hari yang lain
Hari yang hanya punya 24 jam
Jam yang hanya punya 60 menit
Menit yang hanya punya 60 detik
Masih hari yang diawali
dengan terbitnya mentari di timur
Masih hari yang diakhiri
dengan terbenamnya sang surya di barat
jadi apa istimewanya hari ini?
Tapi hari ini selalu dinanti banyak orang
Bahkan dengan cara yang sebenarnya tak perlu
Orang bilang hari ini adalah hari bahagia
Tapi banyak yang tak sadar
bahwa datangnya hari ini justru membuat kita
semakin kehilangan waktu
berapa waktu yang terbuang saat tak kita habiskan
dengan kebaikan
dengan kepatuhan
dengan kewajiban
‘tuk menjadi makhluk-Nya yang beriman
                                                                     
 Pejuang, 13 Agustus 2015


 KILONG

Kita bertemu dengan cara yang cukup unik.
Tapi waktu yang sedikit itu 
kita gunakan tuk banyak hal
Kuajak kalian nikmati yang tak ada di tempatmu
Ya...gudeg, ayam bakar, lalap dan sambal
Kuajak kalian ke tempatku bekerja
Naik angkot butut, KRL yang sesak penumpang, 
lalu naik bajaj yang bikin pekak telinga
Kuajak kalian berkeliling
Kita membeli tam-tam untukmu 
dan ikat pinggang untuk Jaypee
Serta batik tuk kalian sebagai ciri khas Indonesia

I still remember when we spent 2 nights 
and 3 days with Jaypee and Kilong
Until Nippon Maru ship left the Tanjung Priok harbor to take you home ...
I still remember when you sing this song:
Hao man look xao na Ba back kun tai Lai koui long tong
Ha kin you tam pa dong (2x) Meua fa kum long kong oeui na pai ha heuan
Pai wa you ban na Nan xeuin chit chai leu wa peo kai ya
Ban na me kao me pa (2x) Man tieng na mung nga lom pat yen sa bai
Ao ! Yen sa bai yen sa bai xao na ..
 I always love you, but on this happy day (8/12) I can't give you anything, just only sing: 
 HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY KILONG...

                                                                  Pejuang, 8 Desember 2007


DI MANA KAU?

Ketika kubuka jendela
Angin menerpa lembut wajahku
Namun
Aroma berdarah yang kurasa
Sesak dadaku dibuatnya
Kucoba tepiskan kuat-kuat
Tangan terkulai lemah, tak bertenaga, tak berdaya
Ya Allah, penguasa semesta ...
Di manakah dapat kurengkuh tangan gaib-Mu?
Di manakah dapat kuraih pertolongan-Mu?
Di manakah...
Di mana...
Mana.......

                                   Pejuang, Mei 2007







0 komentar:

Posting Komentar