Bagaimana cara kita mengetahui perkembangan atau situasi terkini di sekitar kita?
Menyaksikan acara televisi, mendengarkan radio, mencari info dari orang lain, bisa juga kita mengetahuinya dari surat kabar atau melalui media sosial (medsos)
lainnya. Minat kita untuk membacanya mungkin lebih tinggi karena informasi yang kita butuhkan merupakan berita aktual yang sedang menjadi pembicaraan.
Lalu apa yang
dimaksud dengan editorial?
1. Editorial merupakan salah satu rubrik di media massa
cetak seperti koran, majalah, atau buletin untuk merespon suatu isu atau
permasalahan dan memberikan tawaran solusi di akhir teks.
2. Mengenai atau berhubungan dengan editor atau pengeditan.
3. Artikel dalam surat kabar atau majalah yang
mengungkapkan pendirian editor atau pimpinan surat kabar (majalan) tsb.
mengenai beberapa pokok masalah.
Editorial dalam surat kabar biasanya berada dalam rubrik yang sama, yakni opini. Si dalam rubrik ini terdapat
editorial, artikel, dan surat pembaca. Ketiga ragam opini ini biasanya berada
di bagian tengah surat kabar atau majalah.Jika dicermati satu demi satu setiap rubrik, halaman awal biasanya
berisi headline news (berita utama). Pada bagian ini, tulisan hanya bersifat
memberitahu pembaca. Pada halaman berikutnya biasanya berisi berita yang lebih
spesifik, misalnya berita yang terkait dengan kejadian berdasarkan tempat,
berita luara negeri, baru kemudian opini.
Dilihat dari isinya, editorial yang bersifat ekspositoris berisi tesis atau pernyataan umum,
diikuti oleh argumentasi-argumentasi secukupnya, dan diakhiri dengan penegasan atau pernyataan ulang pendapat
(penulis/editor) di akhir pragraf.
Umumnya sebuah editorial berisi fakta
(kenyataan) berdasarkan peristiwa yang terjadi, diikuti dengan opini (pendapat)
penulis/editor tentang masalah yang dikemukakan.
Fakta yang disajikan dalam teks editorial berupa peristiwa dan data-data terkait dengan
peristiwa yang dibahas. Kalimat yang mengandung fakta biasa
disebut kalimat fakta.
Opini atau tanggapan untuk mendukung pandangan atau sikap
penulis terhadap peristiwa
yang sedang dibahas.dapat berupa penilaian, kritik, prediksi (dugaan berdasarkan fakta
empiris), harapan, dan saran penyelesaian masalah.
Simak teks berikut.
Jakarta -
Akhir-akhir ini banyak masyarakat yang mengeluhkan cuaca panas yang
menimbulkan gerah. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) punya
penjelasannya.
"Suasana
gerah secara meteorologis disebabkan suhu udara yang panas disertai dengan
kelembapan udara yang tinggi," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG
Herizal, melalui keterangannya, Selasa (26/5/2020).
Kelembapan
udara yang tinggi terkait dengan jumlah uap air yang terkandung pada udara.
Semakin banyak uap air yang terkandung dalam udara, maka akan semakin lembap
udara tersebut dan apabila suhu meningkat akibat pemanasan matahari langsung
karena berkurangnya tutupan awan, suasana akan lebih terasa gerah.
Herizal menjelaskan, laporan
meteorologis mencatat suhu udara di beberapa daerah, termasuk Jabodetabek,
pada siang hari berkisar 34 hingga 36 derajat celcius. Dia mengatakan,
umumnya wilayah perkotaan terutama di kota-kota besar memiliki suhu udara
yang lebih panas dibandingkan dengan wilayah nonperkotaan.
"Laporan
pencatatan meteorologis suhu maksimum udara (umumnya terjadi pada siang atau
tengah hari) di Indonesia dalam 5 hari terakhir ini berada dalam kisaran
34-36°C. Beberapa kali suhu udara >36°C tercatat terjadi di Sentani,
Papua. Di Jabodetabek, pantauan suhu maksimum tertinggi terjadi di
Soekarno/Hatta 35°C, Kemayoran 35°C, Tanjung Priok 34,8°C, dan Ciputat
34,7°C. Demikian juga wilayah lain di Jawa, siang hari di Tanjung Perak suhu
udara terukur 35°C," jelasnya.
"Wilayah
perkotaan terutama di kota besar umumnya memiliki suhu udara yang lebih panas
dibandingkan bukan wilayah perkotaan. Sementara itu catatan kelembapan udara
menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kisaran >80% -
100%, yang termasuk berkelembapan tinggi," sambung Herizal.
Selain
itu, kata Herizal, udara gerah merupakan fenomena biasa yang terjadi pada
saat memasuki musim kemarau. Secara statistik berdasarkan historis, wilayah
Jabodetabek pada bulan April hingga Mei memiliki suhu udara yang cukup tinggi
selain bulan Oktober dan November.
"Fenomena
udara gerah sebenarnya adalah fenomena biasa pada saat memasuki musim
kemarau. Untuk Jabodetabek, periode April-Mei adalah bulan-bulan di mana suhu
udara secara statistik berdasarkan data historis memang cukup tinggi, selain
periode Oktober-Nopember. Pada musim kemarau suhu udara maksimum di Jakarta
umumnya berada pada rentang 32-36°C," tuturnya.
|
Kalimat
fakta dalam teks tersebut, antara lain:
- "Suasana gerah secara meteorologis disebabkan suhu udara yang panas disertai dengan kelembapan udara yang tinggi," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal, melalui keterangannya, Selasa (26/5/2020).
- Di Jabodetabek, pantauan suhu maksimum tertinggi terjadi di Soekarno/Hatta 35°C, Kemayoran 35°C, Tanjung Priok 34,8°C, dan Ciputat 34,7°C.
- Dia mengatakan, umumnya wilayah perkotaan terutama di kota-kota besar memiliki suhu udara yang lebih panas dibandingkan dengan wilayah nonperkotaan.
- Selain itu, kata Herizal, udara gerah merupakan fenomena biasa yang terjadi pada saat memasuki musim kemarau.
- pengenalan isu (tesis),
- argumentasi, dan
- penegasan
Kaidah
Kebahasaan Teks Editorial
- menggunakan kalimat fakta dan
kalimat opini
- kata-kata yang digunakan
bersifat populer.
- menggunakan kata ganti penunjuk
waktu, tempat, peristiwa
- menggunakan banyak konjungsi
kaulitas
- menggunakan kata keterangan
atau adverbia frekuentatif, seperti selalu, biasanya, sebagian besar
waktu, sering, kadang-kadang, jarang, dan lainnya








0 komentar:
Posting Komentar