Selasa, 26 Mei 2020

EDITORIAL


Bagaimana cara kita mengetahui perkembangan atau situasi terkini di sekitar kita?
Menyaksikan acara televisi, mendengarkan radio, mencari info dari orang lain, bisa juga  kita  mengetahuinya dari surat kabar atau melalui media sosial (medsos) lainnya. Minat kita untuk membacanya mungkin lebih tinggi karena informasi yang kita butuhkan merupakan berita aktual yang sedang menjadi pembicaraan.
Lalu apa yang dimaksud dengan editorial?


Berikut beberapa definisi tentang editorial

1.  Editorial merupakan salah satu rubrik di media massa cetak seperti koran, majalah, atau buletin untuk merespon suatu isu atau permasalahan dan memberikan tawaran solusi di akhir teks.
2.   Mengenai atau berhubungan dengan editor atau pengeditan.
3. Artikel dalam surat kabar atau majalah yang mengungkapkan pendirian editor atau pimpinan surat kabar (majalan) tsb. mengenai beberapa pokok masalah.

Editorial dalam surat kabar biasanya berada dalam rubrik yang sama, yakni opini. Si dalam rubrik ini terdapat editorial, artikel, dan surat pembaca. Ketiga ragam opini ini biasanya berada di bagian tengah surat kabar atau majalah.Jika dicermati satu demi satu setiap rubrik, halaman awal biasanya berisi headline news (berita utama). Pada bagian ini, tulisan hanya bersifat memberitahu pembaca. Pada halaman berikutnya biasanya berisi berita yang lebih spesifik, misalnya berita yang terkait dengan kejadian berdasarkan tempat, berita luara negeri, baru kemudian opini.

Cara penulisannya sama dengan eksposisi yang bertujuan mengklarifikasi, menjelaskan, atau mengevaluasi. Strategi pengembangannya mengikuti beragam pola, seperti contoh, proses, sebab-akibat, klasifikasi, definisi, analisis, atau komparasi.

Dilihat dari isinya, editorial yang bersifat ekspositoris berisi tesis atau pernyataan umum, 
diikuti oleh argumentasi-argumentasi secukupnya, dan diakhiri dengan penegasan atau pernyataan ulang pendapat (penulis/editor) di akhir pragraf.
Umumnya sebuah editorial berisi fakta (kenyataan) berdasarkan peristiwa yang terjadi, diikuti dengan opini (pendapat) penulis/editor tentang masalah yang dikemukakan.

Fakta yang disajikan dalam teks editorial berupa peristiwa dan data-data terkait dengan 
peristiwa yang dibahas. Kalimat yang mengandung fakta biasa disebut kalimat fakta.

Opini atau tanggapan untuk mendukung pandangan atau sikap penulis terhadap peristiwa 
yang sedang dibahas.dapat berupa  penilaian, kritik, prediksi (dugaan berdasarkan fakta 
empiris), harapan, dan saran penyelesaian masalah.

Simak teks berikut.


Jakarta - Akhir-akhir ini banyak masyarakat yang mengeluhkan cuaca panas yang menimbulkan gerah. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) punya penjelasannya.
"Suasana gerah secara meteorologis disebabkan suhu udara yang panas disertai dengan kelembapan udara yang tinggi," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal, melalui keterangannya, Selasa (26/5/2020).

Kelembapan udara yang tinggi terkait dengan jumlah uap air yang terkandung pada udara. Semakin banyak uap air yang terkandung dalam udara, maka akan semakin lembap udara tersebut dan apabila suhu meningkat akibat pemanasan matahari langsung karena berkurangnya tutupan awan, suasana akan lebih terasa gerah.
Herizal menjelaskan, laporan meteorologis mencatat suhu udara di beberapa daerah, termasuk Jabodetabek, pada siang hari berkisar 34 hingga 36 derajat celcius. Dia mengatakan, umumnya wilayah perkotaan terutama di kota-kota besar memiliki suhu udara yang lebih panas dibandingkan dengan wilayah nonperkotaan.

"Laporan pencatatan meteorologis suhu maksimum udara (umumnya terjadi pada siang atau tengah hari) di Indonesia dalam 5 hari terakhir ini berada dalam kisaran 34-36°C. Beberapa kali suhu udara >36°C tercatat terjadi di Sentani, Papua. Di Jabodetabek, pantauan suhu maksimum tertinggi terjadi di Soekarno/Hatta 35°C, Kemayoran 35°C, Tanjung Priok 34,8°C, dan Ciputat 34,7°C. Demikian juga wilayah lain di Jawa, siang hari di Tanjung Perak suhu udara terukur 35°C," jelasnya.

"Wilayah perkotaan terutama di kota besar umumnya memiliki suhu udara yang lebih panas dibandingkan bukan wilayah perkotaan. Sementara itu catatan kelembapan udara menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kisaran >80% - 100%, yang termasuk berkelembapan tinggi," sambung Herizal.

Selain itu, kata Herizal, udara gerah merupakan fenomena biasa yang terjadi pada saat memasuki musim kemarau. Secara statistik berdasarkan historis, wilayah Jabodetabek pada bulan April hingga Mei memiliki suhu udara yang cukup tinggi selain bulan Oktober dan November.

"Fenomena udara gerah sebenarnya adalah fenomena biasa pada saat memasuki musim kemarau. Untuk Jabodetabek, periode April-Mei adalah bulan-bulan di mana suhu udara secara statistik berdasarkan data historis memang cukup tinggi, selain periode Oktober-Nopember. Pada musim kemarau suhu udara maksimum di Jakarta umumnya berada pada rentang 32-36°C," tuturnya.


Kalimat fakta dalam teks tersebut, antara lain:
  1. "Suasana gerah secara meteorologis disebabkan suhu udara yang panas disertai dengan kelembapan udara yang tinggi," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal, melalui keterangannya, Selasa (26/5/2020).
  2. Di Jabodetabek, pantauan suhu maksimum tertinggi terjadi di Soekarno/Hatta 35°C, Kemayoran 35°C, Tanjung Priok 34,8°C, dan Ciputat 34,7°C.
Kalimat opini dalam teks tersebut, antara lain:
  1. Dia mengatakan, umumnya wilayah perkotaan terutama di kota-kota besar memiliki suhu udara yang lebih panas dibandingkan dengan wilayah nonperkotaan.
  2. Selain itu, kata Herizal, udara gerah merupakan fenomena biasa yang terjadi pada saat memasuki musim kemarau. 
Struktur Teks Editorial
  1. pengenalan isu (tesis), 
  2. argumentasi, dan 
  3. penegasan
Kaidah Kebahasaan Teks Editorial
  1. menggunakan kalimat fakta dan kalimat opini
  2. kata-kata yang digunakan bersifat populer.
  3. menggunakan kata ganti penunjuk waktu, tempat, peristiwa
  4. menggunakan banyak konjungsi kaulitas
  5. menggunakan kata keterangan atau adverbia frekuentatif, seperti selalu, biasanya, sebagian besar waktu, sering, kadang-kadang, jarang, dan lainnya


0 komentar:

Posting Komentar